Red Skull With Spear Through It

Senin, 04 Mei 2015

Rindu Itu Sakit

Apa ini? Sakit sekali. Sesaknya dadaku seakan terinjak oleh sesuatu yang sangat besar. Di kepalaku, ada sesuatu yang tak bisa hilang dari kemarin, dan dadaku rasanya sesak sekali. Mungkin ini yang dinamakan dengan rindu. Apa benar rindu sesakit ini? Apa benar merindukan seseorang akan sesesak ini rasanya?
Aku benci rasa ini. Tak terasa ada bulir - bulir air yang keluar dari mataku dan merembes dipipiku.
Aku tak bisa membendungnya. Tolong enyahkan rasa ini.

Sabtu, 02 Mei 2015

LAMUNAN

Hujan mengguyur lagi, namun deras rintikannya tak terdengar olehku. Entah, mungkin aku terlalu fokus pada lamunan bodohku.
Kopi yang sedari tadi ku seduh pun sampai dingin. 
Yang kulakukan hanya tetap bermain-main dengan lamunan gila dan bodohku tentangmu bersamanya.

Tak bisa ku tepis, tak bisa ku hindari, semuanya masuk dalam lamunanku. Semua tentangmu tergambar jelas di benakku. Sekecil apapun tingkahmu, semuanya tergambar begitu jelas. Bahkan bagaimana caramu berbicara padanya, merangkulnya, memeluknya, menciumnya, semuanya sangat jelas tergambar.

Entah ini hanya sebuah lamunan ataukah memang seperti itu halnya yang terjadi. Tapi satu yang pasti, aku merasakan rasa yang kubenci untuk ku akui. Perasaan yang entah layak untuk hadir atau tidak.

Selasa, 28 April 2015

MEMASUNG CEMBURU


“Kenapa kamu menutup matamu seperti itu?” sebuah suara di belakangku bertanya. Aku menoleh sedikit meskipun tak bisa melihat siapa yang berbicara, “Siapa itu?” tanyaku. “Aku…” jawab suara itu lagi. “Kamu ingin tahu?” tanyaku berbasa-basi. “Ya. Ceritakan padaku…” jawab suara itu lagi. AKu menghela nafas sejenak. Haruskah….? – pikirku. Namun terlambat bagiku untuk menolak karena aku pun telah telanjur menohok rasa ingin tahunya. “Memasung cemburu….” akhirnya aku menjawab.


“Kenapa begitu?” tanya suara itu lagi. “Begitu bagaimana?” tanyaku tidak mengerti. “Menutup matamu sedemikian rupa. Perlukah itu?” suara itu terdengar sedikit lebih dekat sekarang. Aku mengangguk, “Perlu sekali, karena dengan begini aku tak bisa melihat ketika dia sedang berjalan bersamanya, menggandeng tangannya atau mengecup bibirnya…” jawabku lirih. “Siapa?” tanya suara itu tepat di depan telingaku. Aku nyaris terlonjak, padahal dia hanya berbisik saja. “Dia…” jawabku ambigu. “Siapa?” suara itu bersikeras menanyakan. Aku terdiam sejenak, “Dia yang menguasai hati dan jiwaku tapi tak bisa aku miliki…” akhirnya aku menjawab dengan suara yang dibuat sewajar mungkin.

“Kenapa kamu mencemburuinya?” suara itu lagi-lagi bertanya dengan penuh rasa ingin tahu. Aku mendengus kecil, “Hmph… karena dia seperti bulan purnama. Terlihat begitu dekat, namun tak tergapai. Tak termiliki utuh. Hanya bisa dimiliki oleh malam…” jawabku putus asa. “Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan….” sambungku.

“Berhasilkah….?” suara kecil itu terdengar sedikit khawatir. Aku tersenyum getir sambil menggeleng, “Tidak…” jawabku pelan. “Sama sekali tidak….”





disunting dari :
https://btaridurga.wordpress.com/2015/04/06/memasung-cemburu/comment-page-1/#comment-79

Jumat, 13 Maret 2015

INGINKU

Saat kamu tak ada kabar, sebenarnya aku ingin bertanya
"Kamu ngapain?"
"Kamu dimana?"
"Kamu sedang sibuk?"
Tapi entah mengapa satu kalimat pun tak bisa aku tanyakan padamu
Bukan tak bisa, tapi aku tak mampu.
Seperti aku tidak ada hak untuk bertanya tentang hal itu.
Kenyataannya hatiku sesak menahannya, aku juga ingin tau apa kegiatanmu saat tak bersamaku
Apa kamu baik-baik saja?
Mungkin aku memang tak perlu bertanya apapun padamu
Cukup dia yang tahu saja
Cukup aku tahu bahwa saat bersamaku kamu baik - baik saja

Satu pertanyaan yang sangat aku ingin tanyakan adalah :
"Apakah kamu merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan?"
Semua tentang KITA, semua hal yang menjadi rahasia kita.
Aku terbunuh dengan perasaan ini.
Terbunuh ketika aku harus pura-pura tak peduli tentang KITA
Aku ingin kita bisa berbicara tentang kita dengan serius (sekali saja)
Hanya sekali saja, bicara tentang perasaanku mungkin juga tentang perasaanmu
Aku takkan menuntut apapun, karena aku tau siapa kita
Sebatas apa kita,
Namun apa aku salah jika aku ingin bicara serius?
Hanya seperti membicarakan hal sedikit serius?
Aku ingin itu, mungkin aku juga yang tak bisa memulai bicara serius
Karena itu bukan keahlianku :(

Senin, 02 Maret 2015

You Still Have Half of My Heart

Masih ingat tentang rasa itu? sudah hampir mati kemarin
Ketika ingin ku lupakan,
Ketika ingin ku lepaskan,
Ketika ingin ku relakan,
Ketika ingin ku ikhlaskan dirimu dan rasa itu pergi
Kau mengungkapkannya lagi
Sehingga inginku tak dapat ku lakukan lagi
Rasa itu hidup lagi mengisi hatiku lagi
Kau menerbangkanku lagi dengan kata-katamu
Tapi aku takut,
Takut kau hempaskan lagi,
Takut hati ini sakit lagi, meski aku dan kau bukan siapa2
Meski kita "cuma seperti ini", tapi aku tetap merasakan sakit
Aku cuma takut sakit lagi.
Takut kau hempaskan lagi
Aku hanya ingin seperti ini,
Jangan kau terbangkan dan hempaskan aku.
Biarkan aku menggantung pada perasaan ini.
Dengan menggantung saja aku cukup senang
Setidaknya aku tetap bisa berpegang padamu
Tanpa takut jatuh, dan tidak juga senang karena aku tidak kau terbangkan
Biarkan kita tetap seperti ini sampai ikatan dia dan kau serta dia dan aku menarik kita pada dunia kita masing - masing.


You Still Have Half of My Heart